Porsi Tabungan Masyarakat Menyusut, Konsumsi dan Utang Pinjol Terus Meningkat

Kamis, 09/07/2026 10:45 WIB
-

-

Jakarta, sumbarsatu.com – Porsi pendapatan masyarakat yang dialokasikan untuk tabungan kembali menyusut pada Juni 2026. Di sisi lain, porsi pendapatan untuk konsumsi meningkat, sementara nilai utang masyarakat melalui pinjaman online (pinjol) terus bertambah. Pada saat yang sama, tingkat keyakinan konsumen juga mengalami pelemahan meski masih berada di zona optimistis.

Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia (BI), proporsi pendapatan yang disimpan (saving to income ratio) pada Juni 2026 tercatat sebesar 17 persen, turun dibandingkan Mei yang mencapai 17,5 persen.

Sebaliknya, proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) meningkat menjadi 73 persen dari 72,3 persen pada bulan sebelumnya. Sementara itu, porsi pendapatan untuk membayar cicilan utang (debt installment to income ratio) sedikit menurun menjadi 10 persen dari 10,2 persen pada Mei.

Penurunan porsi tabungan terutama terjadi pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran Rp2,1 juta hingga Rp3 juta per bulan. Pada kelompok ini, proporsi pendapatan yang ditabung turun menjadi 15,6 persen. Penurunan juga terjadi pada kelompok pengeluaran Rp4,1 juta hingga Rp5 juta yang hanya menyisihkan 16,9 persen pendapatannya untuk tabungan.

Sebaliknya, proporsi pendapatan untuk konsumsi pada kedua kelompok tersebut justru meningkat. Pada kelompok pengeluaran Rp2,1 juta hingga Rp3 juta, porsi konsumsi naik menjadi 75,2 persen. Sementara pada kelompok Rp4,1 juta hingga Rp5 juta meningkat menjadi 71,8 persen. Adapun masyarakat dengan pengeluaran di atas Rp5 juta mengalokasikan 70,9 persen pendapatannya untuk konsumsi.

Di sisi lain, utang masyarakat melalui layanan pinjaman online juga terus meningkat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan pinjol pada Mei 2026 mencapai Rp103,73 triliun, naik Rp1,66 triliun dibandingkan April yang sebesar Rp102,07 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, mengatakan tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 justru membaik menjadi 4,42 persen, lebih rendah dibandingkan April yang mencapai 4,62 persen.

Selain itu, OJK melaporkan pembiayaan industri pegadaian pada Mei 2026 tumbuh 57,97 persen secara tahunan menjadi Rp163,27 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp137,20 triliun atau 84,03 persen disalurkan melalui produk gadai. Sementara pembiayaan modal ventura tumbuh tipis 0,09 persen secara tahunan menjadi Rp16,36 triliun.

Sementara itu, BI melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 melemah meski masih berada pada level optimistis. IKK tercatat sebesar 117,8, turun dibandingkan Mei yang mencapai 120,9. Angka tersebut menjadi level terendah sejak September 2025.

Pelemahan IKK dipengaruhi turunnya dua komponen utama, yakni Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang turun dari 112,2 menjadi 109,2 serta Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang melemah dari 129,7 menjadi 126,4.

Meski demikian, kondisi ekonomi saat ini masih ditopang oleh Indeks Penghasilan Saat Ini sebesar 119,8, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja sebesar 101,8, dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama sebesar 105,9.

BI juga mencatat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang masih relatif kuat. Hal itu tercermin dari ekspektasi penghasilan yang berada di level 133,6, ekspektasi ketersediaan lapangan kerja sebesar 124,4, serta ekspektasi kegiatan usaha yang mencapai 121,2.ssc



BACA JUGA