Defisit APBN April 2026 Turun Jadi Rp164,4 Triliun, Subsidi Energi Melonjak akibat Konflik Timur Tengah

Rabu, 20/05/2026 21:04 WIB
-

-

Jakarta, sumbarsatu.com--Menteri Keuangan Purbaya mengumumkan defisit APBN hingga April 2026 mencapai Rp164,4 triliun atau setara 0,64 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka itu menurun dibandingkan posisi Maret 2026 yang mencapai Rp240,1 triliun.

Di sisi pendapatan, negara berhasil mengumpulkan Rp918,4 triliun atau tumbuh 13,3 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kinerja tersebut berbalik arah dibandingkan April 2025 yang saat itu masih terkontraksi 12,4 persen.

Penerimaan perpajakan tetap menjadi penopang utama APBN dengan realisasi Rp746,9 triliun atau tumbuh 13,7 persen (yoy). Sementara itu, belanja negara tercatat Rp1.082,8 triliun atau meningkat 3,43 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Adapun keseimbangan primer mencatat surplus Rp28 triliun atau tumbuh 83,9 persen. Kondisi ini menunjukkan pendapatan negara di luar pembayaran bunga utang masih mampu menopang kebutuhan belanja pemerintah.

Untuk menutup kebutuhan pembiayaan APBN, pemerintah telah menarik utang baru sebesar Rp305,5 triliun atau setara 36,7 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp832,2 triliun.

Selain itu, pembiayaan non-utang mencapai Rp7 triliun atau 4,9 persen dari target tahun ini sebesar Rp143,1 triliun. Dengan demikian, total pembiayaan anggaran hingga April 2026 mencapai Rp298,5 triliun atau 43,3 persen dari target total pembiayaan APBN 2026 sebesar Rp689,1 triliun.

Dalam paparannya, Purbaya juga menyoroti lonjakan belanja subsidi dan kompensasi yang mencapai Rp153,1 triliun atau naik 223,1 persen secara tahunan. Kenaikan itu dipicu meningkatnya tekanan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah.

Rinciannya, belanja subsidi mencapai Rp74,9 triliun, sedangkan kompensasi energi sebesar Rp78,2 triliun.

Realisasi subsidi BBM hingga April 2026 tercatat 4,7 juta kiloliter atau tumbuh 8,2 persen (yoy). Sementara penyaluran LPG 3 kilogram mencapai 2.152 juta kilogram atau naik 3,7 persen.

Pemerintah juga mencatat penyaluran listrik bersubsidi kepada 42,9 juta pelanggan atau meningkat 2,2 persen. Selain itu, pupuk subsidi telah tersalurkan sebanyak 2,9 juta ton atau naik 25,2 persen, serta kredit usaha rakyat (KUR) kepada 1,54 juta debitor atau tumbuh 1,4 persen.



BACA JUGA