OLEH Alfitri--Departemen Sosiologi FISIP Unand
SABTU subuh tanggal 17/1 yang lalu, saya check out dari suatu hotel berbintang tiga di kawasan KL Sentral Kuala Lumpur. Saya agak bergegas, karena akan naik kereta bandara KLIA Ekspres mengejar pesawat pagi menuju Singapura.
Sesaat setelah berada di kereta bandara KLIA Ekspres, saya tersadar bahwa jam tangan saya ketinggalan di kamar hotel. Waduh, gimana ini? Istri saya menyarankan untuk mengikhlaskan saja jam tangan itu. Saya sepakat, tapi mesti berusaha dulu, boleh jadi jam tangan itu masih dapat balik dan menjadi rezeki saya.
Bagi saya, Ini bukan jam tangan biasa. Memang bukan jam tangan mahal. Tapi bersejarah. Jam tangan merek Sw*tch buatan Swiss itu saya beli di toko resminya di mall di depan Masjidil Haram Makkah, ketika naik haji tahun 2014 yang lalu. Awet. Belum pernah rusak.
Lalu, saya teringat salah seorang mahasiswa saya yang sekarang sudah bekerja dan tinggal di Kuala Lumpur. Saya foto kartu nama hotel yang memuat alamat lengkapnya, dan wa ke dia untuk menghubungi pihak hotel guna menanyakan jam tangan itu.
Saya selalu membiasakan mengambil kartu nama hotel yang biasanya disediakan di meja resepsionis hotel. Mana tahu suatu saat diperlukan. Dan, ternyata memang ada manfaatnya. Sembari menunggu boarding di Bandara KLIA2, mahasiswa yang biasa saya panggil ustaz itu mengirim wa dan mengabarkan bahwa jam tangan saya itu ada diselamatkan pihak hotel. Nanti sore akan diambil, katanya. Alhamdulillah.
Demikianlah. Di atas pesawat menuju Singapura saya merenung.
Kemajuan sektor pariwisata suatu negara atau daerah tidak pernah berdiri di atas satu pilar saja. Kebijakan pemerintah dan pembangunan infrastruktur memang menjadi pilar utama. Namun keberhasilan pariwisata sesungguhnya ditentukan oleh pengalaman nyata yang dirasakan wisatawan. Pengalaman ini sering kali lahir dari interaksi sederhana, tetapi bermakna, antara wisatawan dan para stakeholders yakni pelaku industri pariwisata.
Wisatawan tentu mencari kepuasan dari rasa aman dan nyaman ketika berkunjung ke suatu tempat. Keindahan alam, kekayaan budaya, dan fasilitas modern akan kehilangan nilainya apabila wisatawan merasa waswas, tidak dilayani dengan baik, atau bahkan dirugikan. Karena itu, faktor manusia yang tercermin dari sikap dan perilaku pelaku industri pariwisata, menjadi unsur yang sangat menentukan.
Petugas hotel, sopir taksi, pemandu wisata, pedagang, hingga petugas keamanan adalah wajah pertama yang ditemui wisatawan. Keramahan, kesopanan, dan kejujuran mereka bukan sekadar etika kerja, melainkan aset pariwisata yang tidak ternilai. Sikap-sikap ini membentuk kesan awal sekaligus kesan akhir yang dibawa pulang oleh wisatawan.
Peristiwa sederhana seperti yang saya alami itu meninggalkan kesan mendalam. Wisatawan tidak hanya merasa lega karena barangnya kembali, tetapi juga merasa dihargai dan diperlakukan dengan jujur. Dari sinilah muncul rasa aman yang sesungguhnya, rasa bahwa ia berada di tempat yang dapat dipercaya.
Cerita-cerita positif semacam ini jarang berhenti pada satu orang. Wisatawan akan membagikannya kepada keluarga, teman, dan kolega, bahkan melalui media sosial. Tanpa disadari, para petugas yang jujur dan ramah tersebut telah menjadi duta pariwisata yang efektif, menyebarkan citra positif daerah atau negara yang mereka layani.
Persepsi wisatawan terhadap suatu destinasi sering kali dibangun dari pengalaman-pengalaman kecil, bukan dari slogan atau iklan besar. Ketika sebuah daerah dikenal aman, ramah, dan jujur, calon wisatawan lain akan lebih percaya diri untuk berkunjung. Kepercayaan inilah yang menjadi modal penting dalam persaingan pariwisata global.
Oleh karena itu, pengembangan sumber daya manusia di sektor pariwisata tidak boleh dipandang sebelah mata. Pelatihan tentang etika pelayanan, kejujuran, dan empati sama pentingnya dengan pelatihan teknis. Pemerintah dan pelaku usaha perlu menanamkan nilai-nilai ini sebagai bagian dari budaya kerja.
Pariwisata yang berkelanjutan bukan hanya soal jumlah kunjungan, tetapi juga kualitas pengalaman. Wisatawan yang merasa aman dan nyaman cenderung ingin kembali, tinggal lebih lama, dan membelanjakan lebih banyak. Dampaknya akan dirasakan langsung oleh perekonomian lokal dan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Pada akhirnya, kemajuan pariwisata adalah hasil kerja bersama. Pemerintah menyediakan kebijakan dan infrastruktur, pelaku usaha menjaga standar layanan, dan para pekerja di lapangan menunjukkan integritas dalam keseharian mereka. Dari kejujuran yang sederhana itulah, citra besar sebuah destinasi pariwisata dibangun dan dijaga.
Dan, di tahun 2025, tampaknya Malaysia telah memanen hasilnya. Kontan.co.id (13/1/2026), melaporkan bahwa Malaysia salip Thailand sebagai negara paling banyak dikunjungi wisatawan di ASEAN. Ini menjadi tahun kedua berturut-turut Malaysia menjadi juara pariwisata di kawasan Asia Tenggara.
Sebelas bulan pertama di tahun 2025 saja, Malaysia mencatat 38, 3 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Saya yakin, sektor pariwisata Indonesia pun sedang berbenah dan berupaya pula menjadi juara.*