Museum Mohammad Sjafei di INS Kayutanam
OLEH Yudhistira Alin--Alumni INS Kayutanam
ADA sekolah yang kita kunjungi sebagai tamu. Ada sekolah yang kita kenang sebagai bagian dari masa lalu. Namun, ada pula sekolah yang bahkan setelah puluhan tahun, tetap terasa sebagai bagian dari tubuh kita sendiri. Umumnya, “anak-anak” INS memaknai sekolahnya pada kategori ketiga ini. Begitu pula dengan saya.
Setelah sekian lama tidak kembali, beberapa hari lalu saya akhirnya menjejakkan kaki lagi di INS Kayutanam, sekolah yang didirikan Mohammad Sjafei. Sebuah ruang pendidik tempat saya menghabiskan waktu sekitar dua puluh enam tahun, baik sebagai siswa, guru, maupun penghuni kompleks sekolah. INS bagi saya bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan ruang hidup, ruang pembentukan, dan ruang pergulatan.
Kembali ke INS menghadirkan perasaan yang bercampur aduk. Ada rindu, ada kebanggaan, tetapi juga ada kegelisahan yang tidak bisa diabaikan. Di antara bangunan yang akrab dan lanskap yang sarat ingatan, satu hal paling menyita perhatian adalah berdirinya Museum Mohammad Sjafei. Bangunan itu mengundang kekaguman, tentu saja. Ia menandai kesungguhan merawat ingatan tentang Mohammad Sjafei.
Namun, pada saat yang sama, sebuah pertanyaan terus berputar di kepala saya: apakah Sjafei ingin kita berhenti pada ingatan? Ataukah ia justru ingin pendidikan terus bergerak, terus gelisah, dan terus hidup? Dari kegelisahan itulah esai ini lahir. Bukan sebagai penolakan terhadap museum, melainkan sebagai upaya membaca ulang makna kehadiran museum dan jalan pikiran Sjafei di ruang pendidik INS Kayutanam.
Mohammad Sjafei bukan sosok yang cukup dipahami melalui biografi atau jejak institusional semata. Ia adalah sebuah jalan pikiran—sebuah paham hidup yang bekerja dalam praktik sehari-hari di sekolah yang ia dirikan. INS tidak dirancangnya sebagai sekolah dalam pengertian sempit, melainkan sebagai laboratorium manusia merdeka.
Pendidikan tidak dipisahkan dari kerja, kebudayaan, tanggung jawab, dan kehidupan nyata. Anak-anak tidak hanya diajarkan untuk tahu, tetapi untuk mampu hidup.
Untuk memahami jalan pikiran itu, kita perlu menempatkan Sjafei dalam konteks zamannya. Awal abad ke-20 adalah masa ketika pendidikan modern mulai diperkenalkan kepada bumiputra melalui sekolah-sekolah guru seperti Kweekschool.
Pendidikan membuka pintu rasionalitas dan melahirkan kaum terpelajar baru. Namun, pendidikan kolonial juga menyimpan batas-batas tegas: akal boleh diasah, tetapi diarahkan; logika boleh diajarkan, tetapi keberanian untuk menggugat dibatasi.
Dari ruang zaman yang sama itulah lahir kegelisahan tokoh-tokoh seperti Mohammad Sjafei dan Tan Malaka. Keduanya tidak hanya hadir dalam ruang dan waktu yang berdekatan, tetapi juga berbagi kesadaran bahwa pendidikan yang hanya melahirkan kepandaian, tanpa membebaskan manusia, pada akhirnya akan melanggengkan ketundukan dalam bentuk baru.
Tan Malaka memilih jalur pembongkaran cara berpikir. Melalui MADILOG—materialisme, dialektika, dan logika—ia mengingatkan bahwa penjajahan paling lama bertahan bukan pada senjata, melainkan pada cara berpikir. Bangsa yang tidak terbiasa membaca realitas secara sebab-akibat dan berpikir rasional terhadap kenyataan materialnya sendiri akan terus mudah dikuasai, bahkan setelah kemerdekaan formal diraih.
Di sisi lain, Mohammad Sjafei menempuh jalan berbeda, tetapi menuju arah yang sama. Ia tidak menulis risalah filsafat pembebasan, melainkan membangun ruang hidup pembebasan. INS Kayutanam adalah jawabannya: tempat akal dilatih bersamaan dengan tangan, kreativitas menyatu dengan kerja, dan pendidikan menjadi kebiasaan hidup sehari-hari.
Jika Tan Malaka membebaskan akal dari belenggu dogma dan tahayul, Sjafei membebaskan manusia dari keterputusan antara sekolah dan kehidupan. Keduanya menolak pendidikan yang jinak—pendidikan yang rapi secara administratif, tetapi tumpul secara keberanian. Keduanya percaya bahwa manusia merdeka hanya dapat lahir dari pendidikan yang berpihak pada kenyataan hidup.
Sayangnya, tradisi pemikiran semacam ini tidak pernah benar-benar menjadi arus utama pendidikan nasional pascakemerdekaan. Pendidikan lebih memilih jalan seragam, terpusat, dan berorientasi ijazah. Akal boleh berkembang, tetapi dalam koridor aman. Kreativitas boleh tumbuh, tetapi tidak sampai menggugat struktur. Sekolah semakin jauh dari kerja nyata dan persoalan riil masyarakat.
Krisis pendidikan hari ini justru menegaskan relevansi jalan pikiran Sjafei. Kita hidup di zaman ketika sekolah semakin tertib secara administratif, tetapi rapuh secara makna. Anak-anak dilatih menjawab soal, tetapi tidak dibiasakan membaca kenyataan. Pendidikan melahirkan lulusan yang pandai berbicara tentang masa depan, tetapi gagap menghadapi krisis kerja, krisis pangan, dan krisis kebermaknaan hidup.
Di titik inilah jalan pikiran Sjafei dan INS Kayutanam perlu dibaca ulang. Bukan sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai kritik hidup terhadap pendidikan hari ini. Di sinilah pula museum menghadapi ujian terberatnya.
Museum Mohammad Sjafei tidak boleh menjadi ruang penenangan ingatan semata. Ia harus menjadi ruang yang menggugah kegelisahan. Bahaya terbesar museum bukanlah lupa, melainkan pembekuan. Sjafei tidak boleh diabadikan sebagai patung; ia harus tetap hidup sebagai pertanyaan.
Seratus tahun INS Kayutanam bukan penanda bahwa sebuah tugas telah selesai, melainkan penegasan bahwa sebuah pekerjaan besar masih berlangsung.
Museum hanya akan bermakna jika ia tidak menutup percakapan, tetapi justru membukanya kembali—tentang pendidikan, kemandirian, dan keberanian hidup sebagai manusia merdeka.
Jika setiap orang yang keluar dari museum membawa kegelisahan baru tentang arti pendidikan bagi hidupnya, maka INS Kayutanam benar-benar telah hidup seratus tahun, bukan karena usianya, melainkan karena keberaniannya untuk terus diperbarui.
Mohammad Sjafei sering dikenang sebagai pendiri INS Kayutanam, tokoh pendidikan, dan pelopor sekolah alternatif. Pembacaan ini tidak keliru, tetapi belum cukup.
Sjafei lebih dari sekadar sosok; ia adalah sebuah jalan pikiran. Jalan pikiran yang tidak pernah dirumuskan dalam manifesto, tidak dinamai sebagai aliran, dan tidak diwariskan lewat buku teori. Ia memilih jalan sunyi sekaligus berisiko: menjelmakan pikirannya langsung ke dalam kehidupan.
INS Kayutanam membuktikan bahwa Sjafei tidak sedang membangun institusi, melainkan menguji keyakinan bahwa manusia hanya dapat menjadi merdeka jika pendidikan menyatu dengan hidupnya sendiri. Pendidikan, baginya, tidak boleh terpisah dari kerja, kebudayaan, disiplin, tanggung jawab, dan kenyataan sehari-hari. Sekolah yang terpisah dari hidup hanya akan melahirkan manusia yang asing di negerinya sendiri.
Dalam pengertian ini, Sjafei melawan dua hal sekaligus: pendidikan kolonial yang mencetak tenaga terampil, bukan manusia merdeka, dan kecenderungan pendidikan modern yang memisahkan pengetahuan dari laku hidup.
Ia percaya bahwa akal tidak cukup diasah melalui hafalan dan ceramah. Akal harus dilatih melalui kerja nyata. Tangan harus berpikir, dan pikiran harus bekerja.
Jalan pikiran semacam ini memang sulit diwariskan. Ia tidak mudah distandarkan, tidak nyaman bagi sistem yang menyukai kepastian administratif. Mungkin karena itulah pendidikan Indonesia lebih memilih jalur yang rapi dan terukur, meskipun harus mengorbankan kedalaman makna. Dalam situasi hari ini, ketika sekolah sibuk mengurus indikator dan peringkat, jalan pikiran Sjafei justru terasa semakin relevan.
Sjafei hadir bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai kritik. Ia mengingatkan bahwa pendidikan tidak pernah netral. Ia selalu berpihak: pada kehidupan atau pada sistem. Sjafei dengan tegas berpihak pada kehidupan.
Karena itu, tantangan terbesar hari ini bukanlah bagaimana mengenang Mohammad Sjafei, melainkan bagaimana menjaga jalan pikirannya tetap hidup. Museum, arsip, dan peringatan seratus tahun hanya akan bermakna jika mendorong pertanyaan baru: apakah pendidikan kita masih membentuk manusia merdeka, atau justru semakin menjauhkan manusia dari hidupnya sendiri?
Mohammad Sjafei mungkin telah tiada sebagai sosok. Namun, selama pendidikan dipahami sebagai laku hidup—bukan sekadar prosedur—selama akal dan tangan dilatih bersama, selama sekolah berani berpihak pada kenyataan, selama sekolah mengaktifkan otak, hati, dan tangan, serta membudayakan karakter aktif, kreatif, inovatif, dan produktif, maka jalan pikiran Sjafei masih hidup.
Dalam ungkapan filosofisnya, “Jangan minta buah mangga pada pohon rambutan, tetapi jadikanlah setiap pohon berbuah manis.” Selama prinsip itu dijalani, jalan pikiran Sjafei akan terus berjalan, menunggu untuk diteruskan. Museum Mohammad Sjafei mestilah menjadi ruang untuk menghidupkan jalan pikiran itu, bukan sekadar ruang mengenang dan membekukannya.
Selamat atas peresmian Museum Mohammad Sjafei di Ruang Pendidik INS Kayutanam.*
Bukittinggi, Senin, 19 Januari 2026