Adab di Atas Ilmu: Krisis Akhlak dan Kepribadian Muslim Hari Ini

Senin, 19/01/2026 10:44 WIB

OLEH Zulkarnaini Diran (Pendidik)

AKHIR-AKHIR ini kita menyaksikan berbagai fenomena negatif yang berkaitan dengan adab dan akhlak. Orang tua murid menyerang guru, murid mengeroyok guru, sesama menteri saling menyindir dengan bahasa kasar, politisi saling menghina, bahkan sesama ulama saling “memarjinalkan”. Semua itu seolah menjadi pemandangan dan pendengaran yang lumrah di negeri ini. Dalam banyak situasi, perilaku tersebut bahkan tampak seperti “kepribadian” yang melekat pada sebagian anak bangsa.

Fenomena ini ibarat gunung es: perlahan mencair, lalu merembes ke berbagai lapisan masyarakat. Yang tampak di permukaan hanyalah sebagian kecil, sementara kerusakan nilai di bawahnya jauh lebih luas dan dalam.

Dalam tradisi Islam, terdapat lima unsur utama yang menentukan kepribadian seorang Muslim, yakni iman, ilmu, amal, ikhlas, dan adab (akhlak). Kelima unsur ini seharusnya bersinergi secara seimbang untuk melahirkan pribadi yang baik, mulia, dan bermartabat.

Menyatukan kelimanya dalam diri individu maupun komunitas membutuhkan kesadaran yang mendalam. Tanpa kesadaran tersebut, ketimpangan akan melahirkan berbagai perilaku menyimpang seperti yang kini kita saksikan.

Segala sesuatu bermula dari iman. Dalam struktur kepribadian Muslim, iman adalah akar yang menghujam ke dalam tanah hati. Tanpa iman, amal dan ilmu setinggi apa pun akan kehilangan orientasi transendentalnya. Iman memberi alasan “mengapa” seseorang harus berbuat baik.

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas iman berkorelasi langsung dengan lisan dan perilaku seseorang.

Jika iman adalah mesin penggerak, maka ilmu adalah kompasnya. Iman tanpa ilmu berpotensi terjerumus pada fanatisme buta atau praktik keagamaan yang keliru. Ilmu menerangi jalan agar iman diwujudkan dalam amal yang benar.

Allah Swt berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11). Ilmu seharusnya melahirkan kebijaksanaan, bukan kesombongan atau kebiasaan merendahkan orang lain.

Amal merupakan manifestasi nyata dari iman di dalam hati dan ilmu di dalam akal. Dalam Al-Qur’an, iman hampir selalu digandengkan dengan amal saleh. Hal ini menegaskan bahwa iman yang pasif bukanlah iman yang hidup. Seseorang bisa memahami secara teoritis kewajiban menghormati guru, tetapi ketika ia justru mengeroyok gurunya, berarti ilmu tersebut belum menjelma menjadi amal.

Namun, amal dan ilmu pun bisa kehilangan makna jika tidak disertai ikhlas. Ikhlas adalah ruh dari seluruh perbuatan. Tanpanya, amal sebesar apa pun akan mati secara spiritual.

Allah berfirman, “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5). Banyak perilaku saling menyindir dan menghina di ruang publik lahir dari hilangnya keikhlasan dalam berkhidmat, yang digantikan oleh ego, ambisi, dan syahwat kekuasaan.

Adab atau akhlak adalah buah paling tampak dari pohon kepribadian. Jika iman, ilmu, amal, dan ikhlas telah menyatu, maka adab akan hadir secara alami.

Para ulama terdahulu menegaskan, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan intelektual. Rasulullah Saw menegaskan misi utamanya, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak” (HR. Ahmad).

Kelima unsur ini saling berkaitan secara sistemik. Iman memotivasi pencarian ilmu, ilmu mengarahkan amal, ikhlas memurnikan amal, dan adab membungkus semuanya dalam keindahan perilaku. Ketimpangan muncul ketika seseorang mengejar ilmu dan gelar, tetapi mengabaikan adab; atau mengaku beriman, tetapi amalnya jauh dari keikhlasan.

Dalam kasus kekerasan murid terhadap guru, tampak jelas adanya mata rantai yang terputus pada aspek adab. Tanpa adab, ilmu kehilangan keberkahannya dan bahkan berubah menjadi senjata untuk melukai orang lain. Fenomena serupa terlihat pada politisi, pejabat, dan bahkan tokoh agama yang saling merendahkan. Perilaku ini lalu menular ke masyarakat luas.

Seharusnya, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar rasa takutnya kepada Allah, yang melahirkan kelembutan dalam bersikap.

Allah berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama” (QS. Fatir [35]: 28). Jika sesama ulama saling memarjinalkan, patut dipertanyakan apakah ilmu tersebut telah meresap menjadi iman dan ikhlas, atau masih berhenti pada tataran kognitif.

Untuk merespons krisis adab yang merambah anak bangsa, sudah saatnya kita kembali menempatkan adab di atas ilmu. Pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada penanaman nilai. Kesadaran mendalam harus dimulai dari pembenahan niat dan pembersihan hati, baik dalam interaksi nyata maupun di ruang digital.

Kelima unsur ini adalah satu kesatuan organik. Kepribadian Muslim yang bermartabat hanya dapat terwujud jika iman menjadi landasan, ilmu menjadi lentera, amal menjadi bukti, ikhlas menjadi nyawa, dan adab menjadi pakaian sehari-hari.

Dengan menyinergikan kelimanya secara seimbang, ketegangan sosial dapat diredam dan harmoni dalam kehidupan berbangsa serta bernegara dapat kembali dirasakan. Insyaallah.*

 

Padang, 16 Januari 2026



BACA JUGA