Jakarta, sumbarsatu.com — Adopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan layanan cloud terus meningkat di kalangan perusahaan Indonesia.
Berbagai sektor industri memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat pengambilan keputusan, serta menghadirkan inovasi layanan berbasis data. Di saat yang sama, penggunaan cloud semakin masif seiring kebutuhan bisnis akan sistem yang fleksibel, skalabel, dan mudah diintegrasikan.
Di balik tren positif tersebut, masih terdapat tantangan mendasar, yakni kesiapan infrastruktur teknologi informasi. Peningkatan adopsi AI dan cloud belum sepenuhnya diimbangi dengan fondasi infrastruktur yang kuat, terintegrasi, dan aman. Kondisi ini berpotensi menghambat optimalisasi teknologi sekaligus menimbulkan risiko baru bagi keberlangsungan operasional bisnis.
Direktur PT Nusa Network Prakarsa, Edward, menjelaskan bahwa banyak perusahaan terlalu fokus pada implementasi teknologi terkini tanpa memastikan kesiapan infrastruktur pendukungnya. Menurutnya, AI dan cloud tidak sekadar berkaitan dengan aplikasi atau platform, melainkan membutuhkan ekosistem teknologi yang matang, mulai dari jaringan, keamanan, hingga tata kelola data.
“Banyak perusahaan ingin segera mengadopsi AI dan cloud karena melihat potensi bisnisnya. Namun, fondasi infrastrukturnya sering kali belum siap. Jaringan belum terintegrasi dengan baik, sistem keamanan masih terfragmentasi, dan data tersebar di berbagai platform,” ujar Edward dalam keterangan tertulis.
Ia menegaskan bahwa penerapan AI dan cloud memerlukan perencanaan bertahap dan terstruktur. Infrastruktur jaringan yang andal, arsitektur sistem yang tepat, serta keamanan siber yang kuat menjadi elemen krusial agar teknologi dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Selain itu, integrasi data menjadi tantangan utama. AI sangat bergantung pada kualitas dan konsistensi data. Jika data masih tersimpan dalam silo atau dikelola tanpa standar yang seragam, hasil analisis dan automasi berpotensi tidak akurat dan berdampak pada keputusan bisnis.
Kondisi tersebut masih banyak ditemui di berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur, properti, hingga jasa. Sistem teknologi yang tumbuh secara parsial tanpa perencanaan ekosistem sering memunculkan kendala teknis saat AI dan cloud diterapkan.
Sebagai perusahaan system integrator, PT Nusa Network Prakarsa menawarkan solusi end-to-end, meliputi infrastruktur jaringan, keamanan, pusat data, integrasi cloud, hingga layanan terkelola. Pendekatan menyeluruh ini bertujuan memastikan setiap teknologi berjalan di atas fondasi digital yang stabil, aman, dan siap berkembang.
“Transformasi digital seharusnya dimulai dari perencanaan arsitektur teknologi yang matang. AI dan cloud akan memberikan nilai maksimal jika dirancang sebagai satu kesatuan sistem sejak awal,” tutur Edward.
Dengan pengalaman lebih dari satu dekade, PT Nusa Network Prakarsa berkomitmen menjadi mitra strategis perusahaan dalam membangun dan mengelola infrastruktur teknologi yang siap menghadapi era AI dan cloud secara aman, efisien, dan berkelanjutan.
PT Nusa Network Prakarsa merupakan perusahaan system integrator di Indonesia dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam menghadirkan solusi teknologi inovatif bagi berbagai sektor industri. Perusahaan ini berkomitmen menyediakan solusi teknologi terintegrasi untuk mendukung pertumbuhan dan transformasi bisnis. ssc/*