harau
OLEH Fatris M F (Penulis)
Tebing-tebing batu yang mengungkung Lembah Harau akan dibuatkan landmark. Anda suka atau tidak, tak penting! Anda anggap ini sebuah ketololan yang akut atau tindakan yang sungguh bijaksana, juga tidak akan mengubah apa-apa. Semua akan terjadi pada masanya. Betapa janggal, landmark diterjemahkan sebagai huruf raksasa.
Kita akan terperangah melihat huruf-huruf raksasa cantik di tebing batu itu ketika acara pergantian tahun yang tak lama lagi akan terjadi. Bukankah begitu yang diharapkan? Tidur di kampung ala Eropa, dihiasi kembang api, disaksikan landmark yang estetik, sambil menyantap ayam goreng, atau jagung rebus dan penganan yang dijual dan dijajakan oleh masyarakat setempat.
Batu breksi dan konglomerat adalah dua jenis batuan yang ditemukan di Harau, jenis batuan yang umumnya terdapat di dasar lautan. Survei tim geologi Jerman mencatat begitu di tahun 1980. Hal senada dengan pernyataan geolog Ade Edward di media, kalau jenis bebatuan yang menyusun tebing batu di Harau adalah jenis konglomerat dan bebatuan lapisan pasir. Tidak seperti anggapan serampangan bahwa tebing batu itu dibentuk oleh jenis granit bertekstur kuat.
Dugaan bahwa Lembah Harau adalah cekungan laut di zaman purba, agak senada dengan mitologi Sarasah Aka Barayun (orang Harau pasti tahu legenda ini).
Hanya, kita tidak tahu pasti, dalam ilmu geologi, tebing-tebing batu tentu menyimpan cerita, peristiwa yang terjadi di Bumi, pengetahuan akan hari depan. Siapa yang sanggup menghambat laju ilmu pengetahuan? Walau, penglihatan kita masih sebatas batu dan perkembangan ilmu pengetahuan kita baru mencapai puncaknya dengan menjadikan tebing-tebing batu Lembah Harau sebagai objek untuk dipanjat dan ditakhlukkan.
Tapi, yang lebih kita tidak tahu lagi, konsep konservasi seperti apa yang diinginkan BKSDA Provinsi Sumbar di Harau itu?
Di kamus Oxford, ‘Conserva-tion’, itu sendiri berakar pada perlindungan atas ‘natural environment,‘historical,‘the act of ….from being lost, wasted, damaged or destroyed…
Atau, jika kita lihat versi Cambridge: the protection of plants and animals, natural areas and interesting n imrtnt structures n buildings, especially frm the damaging effects of human activity….carefully using valuable natural substances that exist in limited amounts in order to make certain that they will be available for as long…
Nah, pembuatan landmark yang tentu saja akan menghabiskan anggaran negara yang tidak sedikit dan digelembungkan ini akan menggunakan besi. Besi yang natural substances? Sungguh kemajuan ilmu pengetahuan yang luar biasa, BKSDA.
Bukankah langkah yang amat bijaksana ini sama dengan ‘pengayom yang jadi bandit’, ‘tongkat yang membuat jatuh’. Jika air sudah keruh dari hulu, akan begini: bukannya melindungi yang sudah ada, malah membuat sesuatu yang nihil fungsinya, mengancam sesuatu yang harusnya dijaga?
Kita sama-sama belajar bagaimana bobrok dan kurang ajarnya penjajah. Dalam laporan-laporan mereka yang semena-mena juga banyak mengatasnamakan ‘rakyat’, namun, mereka tidak melakukan ketololan yang semembagongkan ini, bukan?
Bukankah “untuk peningkatan ekonomi masyarakat setempat” adalah kalimat retoris untuk melanggengkan proyek-proyek ambisius yang tak masuk akal?
Baiklah, biarkan puisi senja cap topi miring yang menjawab pertanyaan di atas:
Tebing-tebing Lembah Harau yang dibekap sunyi, bergemalah pada senja, kopi, dan landmark BKSDA. Semesta merestui.