Warga berada di antara potongan kayu gelondongan di pantai Air Tawar, Padang, Sumatera Barat, 28 November 2025. Antara/Iggoy el Fitra
Padang, sumbarsatu.com —Banjir bandang yang menerjang wilayah Padang, Sumatera Barat, menyisakan pemandangan memilukan di sepanjang garis pantai.
Ratusan bahkan ribuan potongan kayu gelondongan terdampar dari muara hingga bibir laut, menutup sebagian pasir Pantai Air Tawar dan kawasan pesisir lainnya. Pemandangan ini sontak menyedot perhatian publik dan memicu dugaan kuat terjadinya pembalakan liar di kawasan hulu.
Sejak Jumat (28/11/2025) pagi, warga terlihat berjalan di antara tumpukan kayu yang berserakan. Sebagian kayu berukuran besar, bekas potongan mesin, menguatkan kecurigaan bahwa material tersebut bukan kayu alami yang hanyut dari pohon tumbang biasa, melainkan hasil aktivitas penebangan.
Rekaman video amatir warga yang memperlihatkan gelondongan kayu mengalir deras di sungai hingga bermuara ke pantai pun viral di media sosial. Netizen ramai mempertanyakan dari mana asal kayu-kayu tersebut dan mengaitkannya dengan aktivitas ilegal di kawasan hutan.
“Biasanya memang ada kayu hanyut kalau banjir, tapi ini jumlahnya tidak masuk akal. Hampir sepanjang pantai penuh. Kami khawatir ini bukan sekadar bencana alam,” kata Sustaman, 59 tahun, warga Patenggangan, Air Tawar.
Ia mengaku, sepanjang hidupnya, ini pertama kali ia saksikan kayu sebanyak entah ini menutup pantai.
Donal Chaniago, jurnalis, menyebutkan, sejak Panta Ulak Karang-Parkit-Patenggangan-Pasir Jambak-hingga Lubuak Buaya, kayu gelondongan memenuhi bibir pantai.
"Tumpukan Kekayuaan ini akan memunculkan masalah baru lagi inim," katanya. Ia mengaku menyaksikan semua bersama tim Basarnas dari atas helikopter, Sabtu (29/11/2025).
Nelayan Terpukul
Selain menjadi ancaman keselamatan, tumpukan kayu ini juga memukul mata pencaharian nelayan. Sejumlah perahu rusak tertimpa gelondongan saat ombak mendorong kayu ke daratan. Aktivitas melaut pun terhenti karena jalur perahu tertutup material kayu dan sampah.
“Kami tidak bisa melaut. Mesin perahu bisa rusak kalau kena kayu. Laut seperti pagar kayu sekarang,” ujar Bakrizal, nelayan di Ulak Karann, dengan wajah lesu.
Pemerintah Kota Padang tampak mulai melakukan pembersihan pantai, namun jumlah material yang sangat besar membuat proses evakuasi berjalan lambat. Hingga Sabtu siang, alat berat masih hilir-mudik mengangkat gelondongan demi gelondongan dari bibir pantai.
Tragedi Kemanusiaan di Daratan
Di daratan, banjir bandang dan longsor memakan korban jiwa dalam jumlah besar. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam mencatat hingga Jumat (28/11/2025) malam, 86 orang meninggal dunia dan 88 orang masih dinyatakan hilang akibat bencana yang melanda lima kecamatan di wilayah tersebut.
Korban terbanyak berasal dari Kecamatan Palembayan, dengan total 74 korban meninggal di sejumlah jorong, disusul Malalak Timur sebanyak 10 orang akibat banjir bandang di Jorong Toboh. Selain itu, longsor di Kecamatan Tanjung Raya dan Matur juga merenggut korban jiwa.
“Data ini masih berjalan dinamis. Tim gabungan terus melakukan pencarian terhadap korban yang belum ditemukan,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Agam Rahmat Lasmono.
Pencarian melibatkan BPBD, Basarnas, TNI, Polri, PMI, relawan, serta unsur pemerintahan nagari. Akses yang rusak, lumpur tebal, dan cuaca buruk menjadi kendala utama di lapangan.
Dugaan Kerusakan Hulu Menguat
Munculnya kayu gelondongan dalam jumlah masif di pesisir Padang dinilai tidak bisa dilepaskan dari kondisi kawasan hulu yang rusak. Para aktivisi dan akademisi lingkungan di kampus-kampus dalam beberapa kajian menyebut daerah aliran sungai (DAS) di Sumatera Barat mengalami tekanan serius akibat deforestasi, alih fungsi lahan, dan lemahnya pengawasan kehutanan.
Banjir membawa pesan dari hulu. Ketika kayu datang ke laut, itu tanda bahwa tutupan hutan kita sudah sangat rapuh,” nilai mereka.
Fenomena ini seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk menelusuri asal-usul kayu tersebut dan menindak tegas jika terbukti berasal dari aktivitas ilegal.
Di tengah duka dan kerusakan, satu tuntutan menguat dari warga: transparansi dan penegakan hukum.
“Kami bukan hanya butuh bantuan makanan dan selimut. Kami ingin penyebabnya diselidiki. Kalau ini karena pembalakan liar, pelakunya harus ditangkap,” kata Yuliana, warga Palembayan yang kehilangan dua anggota keluarganya dilansir detik,com
Bagi korban, banjir bukan sekadar peristiwa alam, tetapi tragedi yang merobek rasa aman, menghancurkan rumah, dan merenggut nyawa. Sementara bagi pantai Padang, kayu-kayu gelondongan itu kini berdiri sebagai monumen bisu dari krisis ekologis yang tak lagi bisa disembunyikan. ssc/*