Masak Kalamai Barami-rami, Sambut Hari Raya Idulfitri

TRADISI KULINER MINANGKABAU

Minggu, 02/06/2019 05:57 WIB
kalamai

kalamai

Sijunjuang, sumbarsatu.com—Jelang seminggu puasa Ramadan tahun ini purna, kalamai pun dimasak barami-rami menyambut Hari Raya Idulfitri 1440 H. Tradisi itu masih tasalek di Jorong Pamatang Anjuang, Nagari Muaro, Sijunjung.

Ditemani Delfit Swandri, pemuda Nagari Muaro, saya menyusuri tradisi kuliner komunal itu.

Lagu saluang remix Kutang Barendo yang pernah hits di tahun 90-an melantun dari soundsystem 100 watt dalam sebuah bedeng pada Sabtu, (1/6/2019) pukul sembilan malam.

Di tengah bedeng tanpa dinding itu, seorang laki-laki muda mengaduk kalamai dalam kuali besi di atas tungku menyala dari kayu yang terbakar. Kadang, ia mengijok-ngijokan matanya yang pedih disergap asap. Dan asap tak peduli terus naik, menipis, menyentuh sangat lembut atap seng.

Sementara yang lain duduk dan berdiri, menyimak kalamai yang terus diaduk itu di bawah lampu neon. Ada juga yang maota-ota dan bergurau. Sekali-kali, salah seorang di antara mereka memperbaiki nyala api dalam tungku. Umumnya mereka berusia muda.

Hujan rinai mulai turun. Laki-laki yang mengaduk kalamai itu digantikan oleh yang lainnya. Begitu seterusnya.

"Yang masak kalamai malam ini adalah pemuda karang taruna Nagari Muaro," ucap Elvis Buana (32), Sekretaris Karang Taruna Saiyo Sakato Nagari Muaro.

Ia baru rehat dari giliran mengaduk kalamai. Peluh masih bercucuran membasahi wajah dan singletnya.

Menurut Elvis, aktivitas memasak kalamai dilakukan sejak pagi. Mulai dari menyiapkan bahan, di antaranya bareh sapuluik (beras ketan) sebelas kilogram, gula tebu satu kilogram, santan dari lima buah kerambil, dan garam.

Kemudian bahan itu disatukan dalam kuali besi, kayu dalam tungku dibakar, dan mulailah mengaduknya sejak pukul tiga sore hingga pukul dua belas malam.

Alasan memasak kalamai itu lebih lama adalah perkara selera. Semakin lama dimasak, semakin keras dan tahan lama. Tapi jika terlalu lama bisa keras seperti gula-gula.

"Bila kalamai sudah masak, langsung dimasukkan ke dalam kambut. Tapi sekarang sudah praktis, hanya pakai plastik," terang Elvis.

Kambut itu sebagai wadah kalamai agar keluar minyaknya. Jika menggunakan wadah plastik, minyaknya terkungkung.

Minyak dari hasil masak kalamai itu bisa dipergunakan untuk menggoreng samba lado misalnya, atau disebut pula minyak tanak.

Tradisi memasak kalamai barami-rami itu, terang Elvis, biasanya dilakukan seminggu jelang Hari Raya Idulfitri di Nagari Muaro.

Dulu, memasak kalamai dengan sistem bergilir (arisan) atau batoboh. Dari rumah ke rumah, kelompok, dan suku. Tukang masak dapat jatah sebungkus.

"Sekarang tradisi buat kalamai barami-rami kian berkurang. Dulu wajib membuatnya, minimal menumpang ke rumah urang," ucap Elvis.

Untuk itu, tambahnya, Karang Taruna Saiyo Sakato Nagari Muaro berusaha kembali menghidupkan tradisi masak kalamai barami-rami oleh generasi muda, dan sudah dilakukan tiga tahun berturut-turut.

"Kita berusaha menjaga nilai kebersamaan agar tidak punah. Generasi muda saat ini, kelak di masa tua punya pengalaman masak kalamai," guraunya.

Tutur Elvis, dulu kalamai juga dimasak oleh pengantin baru minimal tiga kali Hari Raya Idulfitri dan diantarkan ke rumah mertua dari perempuan. Tradisi ini disebut dengan manjalang mintuo.

"Manjalang mintuo dengan kalamai  adalah simbol anaknya sukses dalam berumah tangga," terangnya.

Sekarang, manjalang mintuo dengan kalamai juga makin berkurang. Bukan lantaran anaknya tidak sukses, tapi perubahan jaman menggerus tradisi yang pernah ada.

Malam bertambah malam. Hujan rinai bertambah rinai.

Anak muda bertambah banyak datang ke bedeng. Kalamai terus diaduk bergantian. Lagu saluang remix Kutang Barendo pun bergantian dengan saluang remix yang lain. (SSC/Thendra)



BACA JUGA