OLEH Maharani Syifa Ramadhan
TIDAK bisa dipungkiri bahwa manusia memiliki relasi yang erat dengan alam. Begitu pun saya, ditakdirkan Tuhan tumbuh dewasa di alam sekitar danau yang tidak lepas dari legenda Bujang Sambilan (salah satu cerita rakyat Sumatera Barat).
Konon, danau tersebut merupakan danau tektonik-vulkanik yang terbentuk dari letusan gunung api. Dikenal dengan nama Danau Maninjau yang menjadi salah satu sumber mata pencaharian masyarakat, berupa usaha tambak jaring apung atau dikenal dengan sebutan karamba (dalam bahasa Minangkabau). Selain itu, Danau Maninjau menjadi tempat untuk kegiatan PLTA maupun pariwisata.
Hubungan baik masyarakat dengan alam semestinya mengalir setenang riak danau. Riak yang semasa kecil masih saya rasakan terlalu damai, sekarang berubah kalut, karena Danau Maninjau saat ini kerap berbau, airnya berwarna hijau dan kadang biru, serta karamba yang rumpang satu per satu.
Sebuah Catatan Perjalanan Tiga Tahun yang Lalu
Susunan karamba yang dulunya apik muncul samar dalam pandangan saya saat berdiri di tepi Danau Beratan, Bali. Bayangkan, gadis yang hidupnya bertahun-tahun menghirup aroma anyirnya air danau, kemudian diberi kesempatan mencium aroma baru dan asing. Wangi tersebut berasal dari asap dupa yang mengepul di pinggir danau berbeda. Ini bukan perihal kontradiksi dengan bau amis dari kampung halaman, tetapi saya teringat bagaimana Danau Maninjau menjadi tempat saya dan mereka tumbuh.
Tidak sedikit dari mereka bermaksud menjaga kekayaan alam di ekosistem danau menggunakan ide-ide kreatif. Upaya tersebut sudah menunjukkan dampak baik dan buruk terhadap alam, masyarakat, maupun kehidupan yang barangkali bisa terjaga.
Betapa ajaibnya alam menghasilkan berbagai sumber kehidupan. Jika Danau Maninjau selalu menjadi bukti nyata dalam memenuhi ketahanan pangan masyarakatnya, maka Danau Beratan menjadi tempat manusia memuja Tuhannya. Bahkan, umat lain ikut berkunjung berbagi kebahagiaan dari energi keindahan alam yang luar biasa; mereka merupakan penikmat wisata.
Saya berharap Danau Maninjau dan Danau Beratan yang menjadi dua sumber kehidupan berupa ekonomi dan spiritual ini terus meriak tenang.
Danau sebagai bagian alam yang dalam istilah “bumi” disebut sebagai “ibu pertiwi” karena memiliki prinsip feminin (dalam perspektif ekofeminisme oleh Vandana Shiva). Prinsip tersebut berperan menjaga keseimbangan, menghasilkan sumber kehidupan, dan mengasihi kehidupan tanpa pamrih.
Dewi Candradiningrum (tokoh gerakan ekofeminisme Indonesia) mengemukakan bahwa alam sudah dirusak oleh industri dan pembangunan modern yang nyaris bersifat patriarkal hingga menindas prinsip feminin alam. Berkali-kali, alam berupaya memulihkan prinsip tersebut untuk dapat terus mengasihi kehidupan.
Namun, terkadang manusia tidak tahu diri, merampas dan menindas alam tanpa ampun. Saya berpikir, apakah mungkin kerusakan kualitas Danau Maninjau di kampung halaman merupakan dampak historis sebagai korban penindasan? Dan apakah Danau Beratan akan berakhir demikian pula jika adanya aktivitas pariwisata yang tidak berkelanjutan?
Pertanyaan-pertanyaan yang ketika itu enggan saya ucapkan kepada siapa pun, kini dapat terjawab gamblang setelah menelusuri beberapa kajian akademis. Ekspansi karamba yang berlebihan, pencemaran limbah pakan ikan, serta lemahnya pengelolaan ekosistem danau menjadi faktor penurunan kualitas air Danau Maninjau dan menjadi penyebab fenomena upwelling atau “tubo belerang” yang mengakibatkan kematian ikan secara massal.
Tubo belerang naik ke permukaan danau seakan mengisyaratkan bahwa “ibu” yang selama ini menghasilkan sumber kehidupan dapat meluapkan amarahnya karena kasih sayang yang kerap tidak diperhitungkan.
Keindahan dan Kerusakan
Lamunan Danau Maninjau tidak berlangsung lama, saya kembali menikmati keindahan Danau Beratan yang menampilkan realitas dari lukisan di uang kertas Rp50.000 lama. Ya! Pura Ulun Danu, saya tidak menyangka lukisan tersebut terpampang nyata di hadapan.
Pada bagian sebelah kanan saya berdiri, ada pertunjukan kesenian alat musik dengan beberapa gamelan kecil hingga besar. Alat musik dimainkan oleh beberapa anak laki-laki hingga dewasa yang mengenakan baju serba putih dengan penutup kepala putih ‘udeng’ dan bawahan berupa sarung corak kotak-kotak yang biasa disebut ‘kamen’.
Alunan melodi khas Bali semakin terasa disertai keberadaan kembang warna-warni di beberapa sudut kawasan wisata tersebut. Mereka mekar dengan sempurna. Kembang yang tak kalah berhasil menarik wisatawan mengantre untuk berfoto ria di dekatnya.
Dua jam berlalu. Apalagi yang diharapkan anak muda seperti saya selain menikmati alam jika bukan mengoleksi foto, lalu mengunggahnya di media sosial. Maklum saja, sejumlah anak muda mempertahankan eksistensinya dengan cara begitu. Saya bersyukur mendapat banyak foto selama di Danau Beratan. Selain itu, saya lebih bersyukur karena sempat berefleksi, bertanya-tanya, mencari, dan mengetahui.
Ketika dalam perjalanan pulang dari Pulau Dewata, saya menyempatkan melihat foto-foto tersebut dan membaca ulang. Benar saja! Alih fungsi lahan dan eksploitasi kawasan wisata di Danau Beratan pun dinilai telah menurunkan kualitas danau.
Berbagai kajian akademis menjelaskan dampak ekologis yang kian serius, terutama penurunan kualitas air danau akibat limbah aktivitas wisata serta operasional speedboat yang menghasilkan pencemaran bahan bakar. Sayang sekali, keindahan dan ketenangannya ternyata menyembunyikan kepedihan.
Baru-baru Ini Kian Memburuk
Waktu kian berjalan, saat ini saya lebih sering menapaki kaki di tepi Danau Maninjau. Belum sempat berkunjung ke danau-danau lain. Warna biru dan hijau Danau Maninjau kini semakin keruh bercampur tanah dan lumpur. Amarah alam bagian hulu mengalir panjang, deras, menghantam dan mengamuk pada permukaan kehidupan di bawahnya, hingga bermuara ke tepian danau setelah membentuk dentum trauma. Pada akhirnya, ekosistem danau yang menjadi salah satu sumber kehidupan masyarakat Maninjau tercemar lagi, semua terdampak.
Peristiwa itu berawal pada penghujung tahun 2025 hingga awal tahun ini. Barangkali bumi sedang sekarat dan udara yang kian memanas membuat awan-awan menahan terlalu banyak dendam.
Ketika tidak lagi sanggup menahannya, mereka pecah menjadi ratusan miliar rintik hujan yang jatuh tanpa jeda, membasahi kehidupan yang sedang sibuk berinvestasi menumbalkan alam. Hujan yang enggan berhenti itu bukan sedang ingin menenggelamkan dunia, tetapi seolah sedang mengatakan sesuatu bahwa ada yang terlanggar pada perjanjian lama antara manusia dan alam.
Maninjau maupun Beratan menunjukkan bahwa dua sisi aroma alam berbeda yang tidak pernah sepenuhnya menjadi sesuatu yang dapat dihancurkan. Kedua danau tersebut merupakan aktor aktif yang produktif dengan tiada henti memulihkan komponen keindahan dan kekuatan di tubuhnya.
Sifat pengasih dan penyayangnya terhadap kehidupan seharusnya juga dibalasi dengan kasih sayang manusia terhadapnya. Alam tidak butuh tangan-tangan perusak, dan kita juga tidak butuh tangan-tangan itu untuk memberi kasih semu dan berujung petaka.*