Selasa, 06/10/2026 17:37 WIB

Tanam Tuai Uji Komitmen: Pohon Ditanam, Anak-anak Turun Merawat

 

Padang, sumbarsatu.com — Gerakan Tanam Tuai memasuki pekan kedua dengan fokus yang lebih penting daripada sekadar menanam pohon: memastikan tanaman yang telah ditanam tetap hidup dan terawat. Setelah aksi perdana di Rimbo Tarok, kegiatan kembali digelar dengan melibatkan anak-anak sebagai bagian dari proses perawatan dan pembelajaran lingkungan.

Kegiatan lanjutan tersebut digelar tabangkik.id bersama Keluarga Dangau Studio pada Minggu (4/10/2026). Sebanyak 26 anak mengikuti kegiatan yang didampingi empat relawan dan enam anggota Keluarga Dangau Studio.

Kegiatan berlangsung sejak pagi hingga sore dengan agenda utama merawat tanaman yang ditanam pada pekan sebelumnya sekaligus menyiapkan media tanam untuk bibit pada tahap berikutnya.

Aktivitas tersebut dikemas melalui berbagai kegiatan yang dekat dengan dunia anak, seperti bernyanyi bersama, bermain sambil belajar, read aloud, serta menggambar dan mewarnai pada sore hari.

Founder tabangkik.id, Ummul Hanifah Putri, mengatakan, pekan kedua sengaja diarahkan pada perawatan sebagai bagian dari upaya memastikan kegiatan Tanam Tuai tidak berhenti pada seremoni penanaman.

"Menanam itu mudah, merawat itulah ujian komitmen. Karena itu pekan kedua kami isi dengan perawatan," ujar Ummul, Selasa (6/10/2026).

Menurutnya, pola kegiatan dibuat luwes agar anak-anak tidak sekadar menjadi peserta, tetapi ikut memiliki proses dan pengalaman dalam kegiatan tersebut. Aktivitas dapat berkembang secara alami berdasarkan inisiatif pendamping maupun permintaan anak-anak.

Pendekatan itu terlihat dari sejumlah aktivitas yang muncul di lapangan. Selain agenda utama, kebersamaan anak-anak dan pendamping berlanjut hingga malam melalui sesi pencak silat dasar yang diinisiasi salah seorang anggota tim serta karaoke atas permintaan anak-anak.

Kembalinya Tanam Tuai ke lokasi yang sama dalam waktu sepekan juga menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan merawat tanaman sejak dini. Gerakan penghijauan tidak berhenti ketika bibit masuk ke tanah, tetapi membutuhkan perawatan agar tanaman dapat tumbuh dan memberi manfaat dalam jangka panjang.

Konteks lingkungan Sumatera Barat juga menjadi perhatian. Laporan Status of Deforestation in Indonesia (STADI) 2025 yang diterbitkan Auriga Nusantara mencatat deforestasi di Sumatera Barat meningkat dari 2.606 hektare menjadi 26.940 hektare atau melonjak sekitar 1.034 persen.

Data tersebut merupakan laporan dari lembaga swadaya masyarakat dan bukan data resmi pemerintah. Namun, kondisi itu menjadi salah satu konteks yang memperkuat pentingnya gerakan berbasis masyarakat dalam mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan, termasuk kepada anak-anak.

Melalui Tanam Tuai, anak-anak diajak terlibat langsung sejak proses menanam hingga merawat tanaman. Pendekatan tersebut diharapkan membangun hubungan yang lebih dekat antara anak, lingkungan, dan tanaman yang mereka rawat sendiri.

Dalam periode 2026–2028, Tanam Tuai menargetkan penanaman lebih dari 10.000 pohon di Sumatera Barat. Program tersebut juga menargetkan lebih dari 50 titik instalasi pagar seni, melibatkan lebih dari 2.000 pemuda desa, serta mengarsipkan lebih dari 500 aset budaya melalui platform tabangkik.id.

Untuk kegiatan berikutnya di Rimbo Tarok, agenda yang disiapkan antara lain pemupukan dan pemagaran tanaman. Kegiatan tersebut menjadi kelanjutan dari pola Tanam Tuai yang menempatkan perawatan sebagai bagian penting setelah proses penanaman. ssc/rel

BACA JUGA