Tom Ibnur, Maestro Zapin, Murid Seniman Tradisi Darwis Loyang

Jum'at, 23/10/2026 18:03 WIB
 Tom Ibnur (15 Mei 1952–23 Oktober 2026)  foto Indonesia Kaya

Tom Ibnur (15 Mei 1952–23 Oktober 2026) foto Indonesia Kaya

ARISON IBNUR IBRAHIM atau yang lebih dikenal sebagai Tom Ibnur (15 Mei 1952–23 Oktober 2026) adalah koreografer terkemuka asal Minangkabau dan salah seorang maestro tari Indonesia. Basis utama penciptaan tarinya berangkat dari seni budaya Minangkabau dan Melayu, terutama tari zapin.
 
Tom Ibnur berhasil mengembangkan tari tersebut sebagai bagian dari kekayaan khazanah budaya Nusantara modern. Para pengamat dan pemerhati tari menyebut Tom Ibnur sebagai “Raja Zapin Nusantara”. Bahkan, ada yang menganggapnya sebagai “penjaga terakhir keberlangsungan hidup tari zapin”.

Rentang tahun 1960–1970 menjadi periode awal perkenalannya dengan tari zapin. Ketertarikannya bermula ketika ia menyaksikan tarian tersebut dalam sebuah perhelatan keluarga di Kota Padang. Sejak saat itu, kecintaannya terhadap seni yang dibawa oleh para pedagang Arab tersebut mulai tumbuh.

Pada usia enam tahun, Tom belajar tari Melayu kepada Darwis Loyang (1936–2012), salah seorang maestro tari Melayu sekaligus pendiri Sanggar Alang Babega di Padang. Selain itu, sosok yang sejak kecil gemar menari ini juga berguru kepada Tengku Nazli A. Mansur, Gusmiati Suid dari Minangkabau, dan sejumlah seniman lainnya. Ia mulai menciptakan tari pada 1968 dan mendirikan sanggar tari Scorrpini Dance Group di Padang pada 1970.

Tom Ibnur lahir di Kampung Jawa Dalam, Padang, Sumatera Barat, pada 15 Mei 1952. Ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara pasangan Ibrahim dan Nurlela. Tom adalah adik Bastian Tito (1945–2006), yang dikenal luas sebagai penulis cerita silat Wiro Sableng dan berasal dari suku Melayu.

Tom menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 52 Padang pada 1965. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 1 Padang dan tamat pada 1968. Setelah itu, ia menempuh pendidikan di SAKMA, yang kini dikenal sebagai SMK SMAK Padang, dan menyelesaikannya pada 1972. Pendidikan berikutnya ditempuh di Akademi Teknologi Industri Padang dalam bidang Analisis Kimia hingga 1978.

Tom pernah bekerja sebagai Analis Kepala Laboratorium Operasi PT Semen Padang pada 1975–1978. Setelah itu, ia memutuskan melanjutkan pendidikan di Jurusan Tari Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pada 1987, ia meraih gelar sarjana seni dari Fakultas Seni Pertunjukan, Jurusan Tari, IKJ.

Selama menempuh pendidikan tari di Akademi Seni Tari LPKJ, yang kini bernama IKJ, Tom Ibnur memperoleh keleluasaan untuk mengembangkan kreativitasnya dalam seni tradisi zapin yang telah dicintainya sejak kecil.

Salah satu karya koreografinya, ZapineoZapin, yang diciptakan pada 2002, menjadi masterpiece dalam perjalanan kreatifnya. Karya tersebut lahir setelah ia menjalani proses pencarian dan pendalaman terhadap tradisi tari zapin selama belasan tahun. Selain karya itu, Tom telah melahirkan ratusan karya tari lainnya yang memperlihatkan konsistensinya dalam mengolah dan mengembangkan seni tradisi.

Tom tidak hanya mempelajari koreografi. Penggemar olahraga basket ini juga mendalami keterampilan merancang busana dan manajemen kesenian. Dalam perjalanan kariernya, ia pernah menjadi pengajar utama dan Pembantu Dekan II Fakultas Seni Pertunjukan IKJ, serta menjabat sebagai Direktur Produksi Taman Ismail Marzuki. Ia juga menjadi pengajar kehormatan di Pascasarjana ISI Padang Panjang dan pengajar tamu di Akademi Kesenian Melayu Riau di Pekanbaru.

Sepanjang kariernya sebagai koreografer, Tom Ibnur telah menghasilkan lebih dari 300 karya tari berbasis tradisi. Sejumlah karya tersebut antara lain Maulid, Cik Awang, Zapin Dana Bedana, Zapin, Jepin, Zafin, Gaung, Zikhrul Hayah, Sikok, Rengas Condong, Zapin Lambung, dan Awan Bailau. Karya-karyanya dipentaskan di berbagai daerah di Indonesia maupun di mancanegara, antara lain Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Australia, Prancis, Spanyol, Italia, Korea, Jepang, dan sejumlah negara lainnya.

Dalam perjalanan kreatifnya, Tom juga kerap berkolaborasi dengan seniman lain. Salah satu karya kolaborasinya adalah Awan Bailau, yang diciptakannya bersama Deddy Luthan dan dipentaskan di American Dance Festival. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari kiprahnya dalam memperkenalkan dan mengembangkan seni tari berbasis tradisi ke dalam pergaulan seni pertunjukan internasional.

Tom Ibnur juga berkontribusi dan berpartisipasi aktif dalam berbagai festival seni bertaraf dunia. Sejumlah festival yang pernah melibatkan dirinya antara lain ASEAN Festival of Performing Arts di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam; Singapore Zapin Festival; Festival Istiqlal; Indonesian Dance Festival; American Dance Festival; Festival Zapin Nusantara di Johor Bahru, Malaysia; Bintan Zapin Festival di Tanjung Pinang; serta Festival Kesenian Melayu se-Dunia. Keterlibatannya dalam berbagai festival tersebut memperlihatkan kiprahnya dalam memperkenalkan tari zapin dan seni pertunjukan Melayu kepada khalayak yang lebih luas.

Demi mengembangkan dan merevitalisasi tari zapin agar tetap diterima dan dicintai masyarakat, Tom Ibnur berkeliling ke berbagai pelosok Nusantara serta negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Perjalanan tersebut dilakukannya untuk meriset, mengumpulkan informasi, dan memetakan perkembangan tari zapin. Melalui kerja kerasnya, ia berupaya mendokumentasikan kekayaan tradisi tersebut sekaligus menjaga keberlangsungannya di tengah perubahan zaman.

Atas dedikasi tersebut, Tom memperoleh penghargaan Bakti Seumur Hidup dari Sangrina Bunda. Pada 2001, ia juga menerima penghargaan dari Presiden Republik Indonesia sebagai Tokoh Pelestari Seni Budaya dan Tradisi. Untuk memastikan seni tradisi zapin tetap terjaga dan berkembang, Tom mendirikan Langkan Budaya Taratak di Jambi. Lembaga ini berfokus pada kegiatan edukasi dan pengajaran seni tari bagi anak-anak dan remaja. Ia juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Kajanglako Art Centre Jambi.

Selain itu, Tom merupakan salah seorang anggota Triangle Arts Program dalam bidang Arts Management untuk Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia. Ia juga dipercaya menjadi konsultan dalam berbagai kegiatan festival seni. Berbagai peran tersebut memperlihatkan bahwa kiprahnya tidak terbatas pada penciptaan karya koreografi, tetapi juga mencakup pendidikan, pengelolaan kesenian, pengembangan jaringan kebudayaan, dan pelestarian seni tradisi.

Atas kerja keras dan pencapaiannya dalam bidang koreografi, sekaligus dedikasinya menjaga dan merawat kekayaan seni tradisi Melayu, terutama zapin, Tom Ibnur menerima berbagai penghargaan dari sejumlah lembaga. Ia tercatat tiga kali memperoleh penghargaan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sebagai Penari Terbaik, masing-masing pada 1963, 1966, dan 1969. Ia juga meraih penghargaan Koreografer Terbaik dalam International Folk Festival di Prancis pada 1983.

Pada 1993, Tom memperoleh penghargaan Koreografi Terbaik dalam Festival Tari Rakyat Sedunia di Prancis dari Association Culturelle d’Échanges Internationaux. Penghargaan lain yang diterimanya adalah “Bakti Seumur Hidup dalam Seni” dari Universitas Indonesia pada 2008, Bakti Seumur Hidup dalam Seni dari Sangrina Bunda Folk Dance and Music Company pada 2009, Anugerah Sagang dari Yayasan Sagang dan Riau Pos sebagai Tokoh Zapin Indonesia pada 2011, serta Anugerah Kebudayaan Republik Indonesia dan penghargaan Maestro Seni Indonesia dari Dewan Kesenian Jakarta pada 2012.

Dalam kehidupan keluarga, Tom Ibnur menikah dengan Rusmiati (almarhumah). Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Budianto, Haris, dan Gigih. Dalam menjalani kehidupan, Tom berpegang pada motonya untuk hidup senang dan bahagia. Ia kemudian menjalani kehidupannya di Jakarta.

Tom Ibnur meninggal dunia pada Jumat, 23 Oktober 2026, dalam usia 74 tahun. Koreografer yang dikenal sebagai “Raja Zapin Nusantara” itu meninggalkan warisan penting bagi perkembangan dan pelestarian seni tari tradisi Melayu, khususnya zapin.

Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan seorang seniman yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk menggali, mengembangkan, dan merawat tradisi tari, sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. (Nasrul Azwar)



BACA JUGA