Sabtu, 24/10/2026 07:48 WIB

Sakit Kepala Mendadak dan Sangat Hebat Bisa Jadi Tanda Darurat

dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS, FMV, dokter spesialis bedah saraf dari Primaya Hospital Depok, memberikan pemaparan saat Primaya Fair pada 27 September 2026 di AEON Mall BSD City.

dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS, FMV, dokter spesialis bedah saraf dari Primaya Hospital Depok, memberikan pemaparan saat Primaya Fair pada 27 September 2026 di AEON Mall BSD City.

Jakarta, sumbarsatu.com--Sakit kepala merupakan keluhan umum yang dialami sekitar 50 persen populasi dewasa setiap tahun. Namun, tidak semua sakit kepala dapat dianggap sebagai keluhan biasa.
 
Dalam kondisi tertentu, nyeri kepala dapat menjadi sinyal gangguan serius pada otak yang membutuhkan evaluasi medis segera.

Menurut dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS, FMV, dokter spesialis bedah saraf dari Primaya Hospital Depok, sakit kepala secara umum dibedakan menjadi sakit kepala primer dan sekunder. Sakit kepala primer, seperti migrain, tension-type headache, dan cluster headache, berasal dari mekanisme sakit kepala itu sendiri.

Sementara itu, sakit kepala sekunder merupakan gejala yang disebabkan kondisi medis lain, seperti trauma, tumor, aneurisma, infeksi, atau perdarahan di otak.

“Sakit kepala pada dasarnya merupakan alarm alami tubuh. Sebagian besar memang bukan kondisi yang berbahaya, tetapi ketika sakit kepala memiliki pola atau gejala yang tidak biasa, kita perlu lebih waspada karena bisa menjadi tanda adanya masalah struktural atau neurologis pada otak,” ujar dr. Kusdiansah, Sabtu (24/10/2027).

Salah satu tantangan dalam mengenali sakit kepala serius adalah gejalanya dapat menyerupai keluhan yang biasa dialami sehari-hari. Migrain, misalnya, ditandai nyeri berdenyut yang dapat terjadi pada satu sisi kepala, disertai mual atau kepekaan terhadap cahaya dan suara.

Tension-type headache umumnya terasa seperti tekanan atau kepala yang diikat, sedangkan cluster headache dapat menimbulkan nyeri sangat berat di sekitar atau belakang satu mata, disertai mata merah atau hidung tersumbat.

Masyarakat perlu lebih waspada apabila sakit kepala menunjukkan karakteristik yang berbeda dari biasanya. Dalam dunia medis, terdapat sejumlah tanda bahaya atau red flags untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan sakit kepala sekunder. Salah satu kerangka yang digunakan adalah SNNOOP10, yang mencakup 15 kelompok tanda dan faktor peringatan.

I15 Tanda Bahaya Sakit Kepala

Kerangka SNNOOP10 untuk mengenali tanda dan faktor peringatan sakit kepala sekunder.

Selain itu, sakit kepala yang memburuk ketika batuk, bersin, atau berolahraga, muncul setelah benturan kepala, terjadi selama kehamilan atau masa nifas, maupun disertai gangguan penglihatan perlu mendapatkan perhatian medis.

“Jangan hanya melihat seberapa sering sakit kepala terjadi. Perubahan pola, intensitas, waktu muncul, serta gejala yang menyertai justru menjadi informasi penting bagi dokter. Sakit kepala yang tiba-tiba sangat hebat, disertai kelemahan, gangguan penglihatan, kejang, atau penurunan kesadaran merupakan kondisi yang tidak sebaiknya ditunggu,” jelasnya.

Pada sakit kepala sekunder, penyebabnya dapat berasal dari kondisi yang membutuhkan penanganan serius, seperti infeksi sistem saraf pusat, gangguan pembuluh darah otak, perdarahan subaraknoid, stroke, tumor otak, abses, hingga hematoma subdural.

Dalam kondisi tertentu, sakit kepala akut bahkan dapat menjadi bagian dari kegawatdaruratan bedah saraf. Dr. Kusdiansah menyebut sejumlah kondisi yang membutuhkan penanganan segera, antara lain perdarahan subaraknoid akibat pecahnya aneurisma otak, hematoma akibat trauma kepala, hidrosefalus akut, serta apopleksi pituitari.

Pemeriksaan medis tidak dapat disamaratakan untuk setiap pasien. Evaluasi dimulai dari wawancara medis dan pemeriksaan fisik, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan pencitraan apabila ditemukan tanda bahaya.

CT scan kepala dapat menjadi pilihan dalam situasi gawat darurat karena membantu mendeteksi perdarahan akut dan fraktur tengkorak. Sementara itu,

MRI otak dan pemeriksaan angiografi dapat digunakan untuk memberikan gambaran lebih terperinci mengenai jaringan otak dan pembuluh darah sesuai indikasi medis.

Perkembangan teknologi juga membuat penanganan bedah saraf semakin presisi. Berbagai teknologi, seperti neuronavigasi, mikroskop dan endoskopi, tindakan endovaskular, hingga Gamma Knife, dapat digunakan pada kondisi dan indikasi tertentu untuk membantu meningkatkan presisi tindakan serta mendukung pemulihan pasien.

“Yang terpenting bukan takut terhadap sakit kepala, tetapi memahami kapan sakit kepala perlu diperiksa. Dengan mengenali tanda bahaya dan mendapatkan diagnosis yang tepat, pasien dapat memperoleh penanganan sesuai penyebabnya sedini mungkin,” tutur dr. Kusdiansah.

Ia mengingatkan masyarakat agar segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sakit kepala yang sangat tiba-tiba dan hebat, kelemahan atau gangguan penglihatan, demam tinggi, maupun pola sakit kepala yang semakin progresif.

“Jangan pernah meremehkan sakit kepala. Deteksi yang tepat dan penanganan yang cepat dapat menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius dan mempertahankan kualitas hidup pasien,” tutup dr. Kusdiansah. ssc/rel

BACA JUGA