Sinyal 4G Mengalir di Nagari Sisawah, “Blank Spot” di Sijunjung Berkurang

-

Selasa, 20/07/2021 22:02 WIB
Satu tower BTS (Base Transceiver Station) Telkomsel setinggi 72 meter yang tegak di puncak Bukit Mata Air mengalirkan sinyal 4G tersebut kepada warga Nagari Sisawah

Satu tower BTS (Base Transceiver Station) Telkomsel setinggi 72 meter yang tegak di puncak Bukit Mata Air mengalirkan sinyal 4G tersebut kepada warga Nagari Sisawah

Laporan Y Thendra BP (Jurnalis sumbarsatu.com)

Sijunjung, sumbarsatu.com--Harapan warga Nagari Sisawah mengakses teknologi komunikasi dan informasi terpenuhi. Telepon genggam telah bersinyal 4G. Pada Sabtu (10/7/2021) jadi momentum awal mereka terhubung dengan dunia luar dari kampung sendiri.

Satu tower BTS (Base Transceiver Station) Telkomsel setinggi 72 meter yang tegak di puncak Bukit Mata Air mengalirkan sinyal 4G tersebut kepada warga Nagari Sisawah, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat.

"Ini seperti mimpi yang terwujud. Saat sinyal seluler tersedia, warga senang benar dan langsung mengontak saudara atau teman di luar nagari, menelepon dan video call," ungkap Wali Nagari Sisawah Restu Syamsepta (47), Minggu (18/7/2021).

Sebelumnya, kata dia, pola komunikasi dengan dunia luar dilakukan secara klasik, yaitu menitip pesan dari orang ke orang. Jika ingin menelepon harus ke nagari tetangga yang dijangkau sinyal seluler, seperti di Nagari Padang Laweh dan Nagari Tamparungo.

"Dulu, ada warga meninggal dunia misalnya, untuk mengabarkan itu kepada saudara di luar nagari kadang dengan titip pesan," terang Restu Syamsepta.

Nagari Sisawah seluas 11.579 hektare itu topografinya didominasi perbukitan. Penduduknya 3.665 jiwa tersebar di Jorong Koto Baru, Koto Sisawah, Simawik, Rumbai, Sungai Tampang, Subalin, dan Kabun. Untuk pusat pemerintahan nagari dan pasar tradisional—hari pekannya Minggu—terletak di Jorong Koto Sisawah.

Warga Nagari Sisawah umumnya adalah masyarakat agraris. Mata pencariannya dari sawah, perkebunan, juga hasil hutan di antaranya manau dan rotan. Lazimnya etnis Minangkabau, ada pula yang merantau dan beragam profesi.

Selain itu, Nagari Sisawah memiliki lanskap yang molek. Lembah dilingkung Bukit Barisan. Hutan hujan tropis. Aliran Sungai Batang Sumpu yang jernih. Bukit karst menjulang. Ngalau-ngalau yang memukau--salah satunya adalah Ngalau Antabuang dengan stalaktit, stalagmit, dan sungai kecil di dalamnya. Dan itu dikunjungi oleh wisatawan dari luar daerah.

Dari Ibu kota Kabupaten Sijunjung, Muaro Sijunjung, ke Nagari Sisawah umumnya ditempuh dengan dua cara. Jalan ditempuh roda empat berkisar dua jam. Sedangkan jalan yang hanya bisa ditempuh kendaraan roda dua berkisar satu jam.

Biasanya masyarakat lebih memilih jalan hanya untuk roda dua itu. Hal ini karena alasan jarak. Selepas jembatan gantung yang melintasi Sungai Batang Ombilin di Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII, pengendara melalui jalan kecil (rigid beton selebar 1 meter hingga 1,5 meter) sejauh 8 kilometer untuk sampai di Jorong Koto Sisawah—pusat Nagari Sisawah.

Jalan kecil itu di antara tebing dan Sungai Batang Sumpu, kadang terdapat ruas yang curam dan sempit—bila kendaraan berpapasan, salah satu harus berhenti untuk memberi lewat. Meski begitu, pepohonan dan semak liar menyajikan pesona alam yang magis, udara pun sejuk segar, sehingga dapat jadi penjinak lelah dalam perjalanan.

Di masa pandemi Covid-19 ini, pelajar dan mahasiswa ada yang pulang kampung ke Nagari Sisawah. Mereka sekolah dan kuliah secara daring. Sebagaimana dialami oleh Retni Yulina, mahasiswi semester 5 program studi Hukum Ekonomi Syariah di IAIN Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar.

Saat kampungnya masih blank spot, Retni melakukan kuliah daring di Nagari Tamparungo yang berjarak sekitar 7 kilometer dari rumahnya. Meskipun jalan ke Nagari Tamparungo itu sudah bisa ditempuh kendaraan roda empat, tapi kadang melewati hutan lebat dan pesawangan.

"Bila jadwal kuliah daring malam, saya pulang ke rumah naik motor, tak ada lampu jalan saat melewati hutan lebat, bikin takut," tuturnya.

Selain itu, Retni mengaku lambat mendapatkan informasi akademik dari kampusnya, tahu-tahu sudah ujian. Dosen ada yang paham dengan kondisinya, tapi tidak semuanya.

"Adanya sinyal seluler di kampung kini tentu memudahkan saya cari informasi, terutama urusan kuliah," ujarnya.

Maiko (25) yang bekerja sebagai THL (tenaga harian lepas) di salah satu instansi di Pemkab Sijunjung mengaku, kini tidak lagi menyimpan smart phone di lemari apabila sedang di Nagari Sisawah. Ia bisa menggunakannya untuk komunikasi, akses informasi, dan bermedsos ria.

"Sebelum bersinyal seluler, fungsi smartphone bagi warga di kampung saya sebatas mendengarkan musik dan main game offline. Untuk akses media sosial, pemuda ada yang ke Nagari Padang Laweh, pulangnya bahkan subuh," terang Maiko yang masih bujangan.

Restu Syamsepta mengatakan sejak dilantik sebagai Wali Nagari Sisawah pada tahun 2019, ia berusaha mewujudkan harapan masyarakat agar bisa mengakses teknologi komunikasi dan informasi dari nagari sendiri. Ia menghubungi Dinas Kominfo Kabupaten Sijunjung dan berbagai pihak. Proses pun berjalan.

"Sejak tahun 2020, anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade juga turut membantu harapan masyarakat agar sinyal seluler masuk di Nagari Sisawah. Akhirnya, Juli ini terpenuhi. Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak," pungkasnya.

Usaha Pemkab Sijunjung Mengurangi Blank Spot

Nagari Sisawah merupakan bagian dari 56 blank spot yang dicatat Dinas Kominfo Kabupaten Sijunjung sejak tahun 2017. Pada tahun 2018 Pemkab Sijunjung berkoordinasi dengan Kementerian Kominfo RI, melalui Badan Aksesibilitas Teknologi Informasi (BAKTI), mengusulkan pendirian BTS pada 56 blank spot di berbagai nagari.

"Saat ini ada 3 spot sudah bersinyal seluler, termasuk di Nagari Sisawah. Tinggal 53 blank spot yang tengah diupayakan untuk didirikan BTS oleh Pemkab Sijunjung bekerja sama dengan berbagai pihak," terang Rizal Efendi, Kadis Kominfo Kabupaten Sijunjung.

Lanjutnya, pada tahun 2021 ini usulan BTS di Nagari Sisawah dapat direalisasikan. Tentu saja atas kolaborasi dan dukungan berbagai pihak, di antaranya General Manager Telkom Sumbar Alfi Sumarta dan anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade.

Sebelumnya, kata Rizal Efendi, pada tahun 2019 Pemkab Sijunjung tengah gencar mempromosikan Geopark Nasional Silokek. Kawasan tersebut termasuk blank spot. Atas dukungan dan lobi dari Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif (berasal dari Sumpur Kudus), menggaet bantuan dari Telkom untuk pembangunan BTS di Nagari Silokek, Durian Gadang, dan Manganti. Pada tahun itu juga BTS diluncurkan di Nagari Silokek dan Nagari Durian Gadang. Sedangkan di Nagari Manganti pada tahun 2020.

"Topografi Kabupaten Sijunjung banyak perbukitan. Dalam satu nagari rumah penduduk tersebar di berbagai lokasi. Tidak rapat. Di sini ada kampung, di balik bukit sana ada pula kampung. Jadi, butuh waktu dan proses untuk mengurangi blank spot tersebut," ujar Rizal Efendi.

Kabupaten Sijunjung dilintasi Bukit Barisan, topografi ketinggian bervariasi antara 120-930 meter dari permukaan laut, dengan kemiringan 15-40 persen. Luas wilayahnya 3.130,40 kilometer persegi atau sekitar 313.040 hektar. Terdiri dari 8 kecamatan, 61 nagari dan 1 desa.

Nagari Sisawah memang sudah bebas dari blank spot, namun ada nagari yang belum. Sehingga warga masih terisolasi dari teknologi komunikasi dan informasi, guru dan pelajar pun mengalami kesulitan belajar daring di masa pagebluk ini. ***



BACA JUGA