Seputar Kerugian Akibat Badai Langkisau, Pemerintah dan Petani Ikan Beda Pendapat

Selasa, 26/01/2016 21:27 WIB

Maninjau, sumbarsatu.com-Badai langkisau,yang menerjang perairan Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam,Senin (25/01/2016), menurut beberapa pemuka setempat, merupakan yang terdahsyat. Belum pernah ada badai sedahsyat yang terjadi Senin itu.

“Luar biasa, dunia layaknya mau kiamat. Saya melihat,betapa mengerikannya gelombang yang menelan keramba jala apung milik saya dan para tetangga,” ujar pemuka masyarakat Tanjung Sani, Y. St. Sarialam, Selasa (26/1/2016).

Menurutnya, dahsyatnya badai menimbulkan gelombang air yang luar biasa di Danau Maninjau. Akibatnya, keramba jala apung (KJA) hancur berantakan. Ikannya lepas ke perairan danau. Kerusakan paling parah diderita KJA dari kayu.

St. Sarialam hanya bisa pasrah, sambil berdoa, kerusakan lebih parah tidak terjadi. Ia mengaku, seharian Senin itu, ia tidak enak makan. Selasa (26/01/2016), ia dan pemilik KJA lainnya mencoba membenahi apa yang bisa dibenahi.

“Kemaren tidak bisa membenahi KJA yang rusak, karena badai masih mengamuk,” ujarnya pula.

Menurutnya pula, bencana kali ini  paling parah. Karena yang lepas bukan saja ikan, tetapi KJA pun banyak yang hancur. Di kawasan Pantai Barat, setidaknya ada 8.000 petak KJA yang rusak. Bila dibangun baru, 1 petak KJA akan menghabiskan biaya sekitar Rp15 juta sampai Rp20 juta. Satu petak KJA berisikan ikan sekitar 2 ton, yang lepas ke perairan danau.

Dikatakan, ikan KJA yang lepas ke perairan danau, hanya untuk kawasan Pantai Barat, sekitar 16.000 ton. Kerugian akibat rusaknya KJA diperkirakan Rp160 juta. Itu baru untuk kawasan Pantai Barat, sebuah kawasan bekas desa kala Tanjung Sani belum kembali ke nagari.

Namun Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Agam, Ermanto, S.PI, M.Si, menyampaikan kerugian akibat lepasnya ikan KJA ke perairan Danau Maninjau, hanya sekitar 100 ton. Jumlah KJA yang rusak sekitar 100 petak. KJA yang rusak adalah yang terbuat dari kayu. Yang terbuat dari besi relatif aman. Hanya tali pengikatnya yang sebagian rusak.

Ketika dikonfirmasi, seputar jumlah kerusakan KJA versi petani ikan, Ermanto menepisnya. Menurutnya, data yang ia sampaikan berdasarkan pendataan petugas di lapangan, bukan reka-rekaan. Sementara petani ikan, diduga membesar-besarkan kerugian yang mereka derita.

Menurut Ermanto,saat ini jumlah KJA dari besi di Danau Maninjau sekitar 18.000 petak. Sedangkan yang terbuat dari kayu sekitar 6.000 petak. Ia berharap ke depan, seluruh KJA terbuat dari besi,s sehingga lebih aman dari serangan badai dan gelombang besar. (MSM)



BACA JUGA